22 Februari 2014

Love is Cinta ~ Journey of Love 3, 21/2

Ini adalah tema acara FIRE Community dalam nuansa hari kasih sayang. Firman yang disampaikan adalah tentang kasih Tuhan kepada seorang wanita yang sangat haus akan cinta (Yoh 4). Dan mata air yang pahit (MARA) yang diterima oleh bangsa Israel dipulihkan setelah dilempar sepotong kayu yang bicara tentang salib Kristus.

Sementara firman disampaikan, aku merenungkan apa yang Tuhan sedang ingin sampaikan kepadaku di hari ini. Dan aku teringat bahwa di masa kecilku banyak hal yang membuat aku pahit. Di masa-masa aku tidak memiliki ayah yang mengakibatkan ibuku harus bekerja sedemikian rupa, betapa sering aku mengalami ejekan dari teman-teman. Selain itu aku juga pernah beberapa kali mengalami pelecehan dari saudara-saudara yang ketika kuceritakan kepada Mami, dia hanya berkata, "Diampuni!".

Sejujurnya pengampunan bukan hal yang mudah bagiku. Dan Tuhan tahu betapa aku perlu untuk belajar mengampuni dan mengampuni.

Di usia ke 10, kelas 5 SD aku mengundangNya menjadi Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah mengikuti pelajaran Alkitab selama 6 bulan, aku dibaptis. Namun itu tidak secara otomatis menjadikan aku seorang yang mudah mengampuni meskipun aku sudah mulai banyak terlibat pelayanan seperti menari dan mengajar sekolah minggu secara komplit dari main musik, memimpin pujian dan menyampaikan firman di kelas yang aku pegang.

Proses belajar mengampuni dimulai ketika aku duduk di bangku SMA kelas 1. Demi menjaga pergaulan dan masa depanku, orang tuaku menyekolahkanku di Jogja, di tahun 1990. Dan di tahun itulah, jemaat dimana aku ada dimulai. Kesombonganku membuat aku menolak mengikuti camp pertama yang diadakan di gereja. Namun kesabaran pemimpin gereja saat itu dan pembinaku membuat aku mengikuti camp yang ke-2.

Dalam camp ini disampaikan tentang Bapa Sorgawli dan Gambar Diri. Kedua sessi ini benar-benar membongkar semua luka yang sebenarnya ingin aku sembunyikan dan tekan sampai tidak terlihat, namun kenyataannya hanya menimbulkan pembusukan yang tidak disadari. Aku mulai dituntun berdoa mengakui dosa, menyebutkan nama-nama orang yang melukai dan melecehkanku. Meskipun awalnya mulut seperti terkunci, tapi akhirnya jebol juga. Dan kuasa pengampunan dariNya mengalir dalam kehidupanku.

Setelah camp itu dan sampai hari ini, proses itu terus terjadi. Awalnya aku tidak pernah memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk menceritakan setiap lembaran kelam yang pernah kulalui. Tapi pembinaku dan my Hubby selalu mendorongku untuk menceritakan tentang cintaNya yang mengubahkanku. Bukan untuk mempermalukan orang tua dan saudara, namun seperti Wahyu 12:11 tuliskan bahwa pekerjaan iblis dikalahkan oleh darah Anak Domba dan perkataan kesaksian.

Belum selalu berhasil memang, namun cintaNya menuntunku dari hari ke hari untuk aku makin hari makin bisa menangkap isi hatiNya. Buatku, cintaNya membuat hidupku merasa dicintai dan diterima sepenuhnya.

ELBeloved \\ Princess of Kingdom®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar