27 Februari 2014

His Destiny ~ Journey of Love 7, 25/2

"24 tahun yang lalu, aku duduk sebagai salah satu siswi di sekolah ini" itulah salah satu kalimat pembuka ketika aku berdiri di depan kelas pembinaan salah satu SMA. Dan mulai aku bercerita tentang kehidupanku.

Betapa sulit untuk mengatakan, "Semua baik, sungguh teramat baik.. " seperti lagu yang baru saja kita nyanyikan karena sejak kecil, aku tidak merasakan kebaikan Tuhan. Sejak umur 3 tahun, aku hidup terpisah dari papa. Dan di usiaku ke 5 tahun papa mama bercerai. Umur 7 tahun, mamaku menikah lagi. Kehidupan keluarga yang berantakan, membuatku berpacaran di usia yang dini. Berusaha menemukan cinta, namun bertemu dengan cinta yang salah membuat kekosongan di jiwa ini semakin menyakitkan. Secara emosi benar-benar melelahkan.

Karena kekhawatiran orang tuaku akan masa depanku, mereka memutuskan untuk aku sekolah di Jogja. Jauh dari orang tua,.. dan aku bisa bergaul dengan orang model apapun di sini. Dari penjudi, pemabuk maupun orang-orang yang melayani Tuhan. Seringkali aku bermain, tertawa riang dengan teman-teman, namun ketika kembali ke ruangan kamarku, kembali aku menangis merasa kosong dan hampa.

Dan aku menemukan sebuah komunitas, persekutuan dan yang kemudian menjadi sebuah gereja. Di sini aku belajar untuk melepaskan pengampunan bagi setiap orang yang melukaiku. Belajar mengingat kembali dan mengatakan, "Aku mengampuni" sampai semua hal yang dahulu terasa menyakitkan tidak terasa sakit lagi. Satu per satu, kejadian demi kejadian menguras air mataku. Dan aku mengatakan, "Alirkan kasihMu Tuhan, sehingga aku bisa melepaskan pengampunan bagi orang tua dan saudara-saudaraku."
Dan hati ini seperti diperbarui, terasa lebih putih dan lembut.

Sebenarnya itulah pula yang terjadi dengan Yusuf. Meskipun dia dicintai oleh ayahnya, namun dia dibenci oleh saudara-saudaranya. Dia dijual di tanah Mesir, menjadi budak. Tempat perbudakan dan penjara, adalah tempat dimana kita sangat tidak bisa 'semau gue'. Yusuf di penjara tanpa kejelasan berapa lama dia harus di situ, secara manusia benar-benar tanpa harapan. Dan proses kesembuhan harus terjadi selagi dia sebagai budak dan narapidana karena Tuhan telah memberi destiny menjadi penguasa dan pemelihara suatu bangsa.

Hari ini,.. seberapa besarpun kita mengalami tekanan, percayalah ada destiny Tuhan yang besar di depan. Dia Tuhan yang tidak pernah membiarkan hidup kita berakhir ditempat perbudakan dan penjara. Minta anugerah Tuhan untuk kita lalui semua kedaan dan kondisi hati yang buruk. Dan nikmati anugerahNya untuk masuk destinyNya sebagai penguasa, putra dan putri bagi kerajaanNya.

ELBeloved \\ Princess of Kingdom®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar