7 April 2011

Imun

Ayat bacaan: Matius 4: 1-11

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

1 Korintus 10:13

Anak saya yang pertama harus mendapatkan booster (pengulangan) dari imunisasi yang telah diterimanya sejak masih bayi. Namun ia menolak dengan keras dengan alasan tidak mau disuntik. Meskipun saya telah menjelaskan padanya tentang pentingnya imunisasi, dia tetap saja menolak. Akhirnya kami memutuskan untuk memaksaanya menerima suntikan imunisasi. Meskipun dia menangis memberontak, namun 10 menit kemudian dia sudah bisa tertawa dan bercanda kembali dengan adiknya. "Ok lah sakit sedikit daripada harus mengalami sakit yang berkepanjangan manakala terjadi suatu wabah penyakit," Demikian dia menirukan penjelasan saya sebelum imunisasi diterimanya.

Ya,… imunisasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh manusia. Meskipun beberapa imunisasi dapat diberikan secara oral, namun belakangan dirasa menyuntikkan zat tersebut dirasakan lebih efektif karena masuk ke dalam darah seseorang.

Saudara,… begitu pula dengan kehidupan kita. Tentunya kita tidak pernah lepas dari pencobaan-pencobaan. Kita tidak pernah bias melarang pencobaan datang menyerang kita. Yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan daya tahan manusia Roh kita sehingga ketika pencobaan datang kita dapat tetap kuat menghadapinya.

Ayat bacaan kita hari ini menceritakan bahwa Yesus juga pernah dicobai. Baiklah kita belajar dariNya bagaimana memenangkan setiap pencobaan yang datang kepadaNya.

1.       Hal yang selalu Yesus katakan adalah, "Ada tertulis…" artinya Yesus sebenarnya membaca, menghafalkan dan merenungkan Firman (Logos). Sehingga setiap kali menghadapi permasalahan, keluarlah Rhema (pewahyuan) yang membuat hidup berkemenangan.

2.       Yesus memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah Bapa, sehingga Dia tahu persis tentang apa bagaimana menjadi Anak yang menyenangkan hati Bapa. Dia tidak berfokus pada apa yang di hadapanNya tapi berfokus pada rencana BapaNya. (Pol) ~ Diterbitkan sebagai Renungan Spirit Woman, Selasa 15 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar