Suatu ketika saya mendapat limpahan seorang anak binaan. Bagi Pembina sebelumnya, anak yang satu ini bisa dikategorikan sebagai trouble maker. Jadi ketika pemimpin memindahkannya menjadi anak binaan saya dengan semangat dia memberi selamat seraya berkata, “Anak itu A, B, C dan seterusnya…” Ya,… pemimpinnya menceritakan kelemahan-kelemahan anak binaannya. Dan sejujurnya saya tidak mendengarkan sama sekali apa yang dikatakannya. Setelah selesai dia membicarakan kelemahannya, dia menasehati saya cara menghandle setiap kelemahan anak binaannya, “Kamu harus lakukan X, Y, Z… Supaya dia baik!” Sayamengucapkan terima kasih sambil berkata, “Saya akan mencoba mengenalinya sendiri!” Dan ternyata benar… ada beberapa kelemahannya yang seperti dikatakan oleh Pembina sebelum saya, namun ada juga yang saya pikir itu bukan kelemahannya. Jadi saya mulai berdoa meminta kasih karunia dari Tuhan untuk dapat menjadi ibu rohani yang baik baginya. Dan saya bersyukur bahwa sampai saat ini saya masih punya hubungan yang baik dengan anak binaan saya. Saya melihatnya bertumbuh dalam pengenalan dan takut akan Tuhan. Dan yang saya lebih syukuri adalah saya tidak menerima ‘sampah’ dari Pembina sebelumnya.
Pengalaman kedua. Hubungan saya boleh dibilang sangat baik dengan ibu penjaga kantor. Dia sering memberi masakannya yang benar-benar enak buat saya. Namun suatu ketika seorang teman dengan nada meenegor berkata, “Ibu berkata kamu selalu meminta masakannya ya?!” Saya sempat shock sesaat dan menjadi kalut. Tapi saya putuskan untuk berdiam diri dan naik ke lantai atas kantor dengan berderai-derai air mata. Saya berusaha menenangkan diri dan menata hati. Di situlah ada suara kecil dan lembut berkata, “Coba tanya ibu… tadi ngobrol apa dengan temanmu!” Saya kaget dan berusaha menguatkan hati untuk bertanya persis seperti bisikan itu. Dan ternyata benar… hanya ‘sampah’ yang berusaha merusak hubungan saya dengan ibu.
Pengalaman ketiga. Tahun 2001 adalah tahun dimana ada banyak ‘sampah’ yang saya ijinkan masuk dengan bebas ke telinga dan keluar lewat mulut saya. Dengan terlalu berani kami (saya dan beberapa teman) mengkritisi gereja yang sedang Tuhan pakai. Bahkan seorang teman membuat buku setebal 200 halaman tentang itu dan puji Tuhan sampai hari ini tidak berhasil ada penerbit yang mau menerbitkannya. Di waktu yang sama, Tuhan beri kesempatan untuk mengambil S2 di STII (Sekolah Tinggi Injili Indonesia). Di situ saya belajar bahwa mempelajari Alkitab harus sesuai konteksnya. ‘Sampah’ dan ‘kebenaran’? Membuat saya bertanya-tanya, ingin mencari tahu dan membuktikan sendiri kebenaran ataupun ketidak benarannya.
Waktu itu,… akhir tahun… Kakak saya datang dari Canada dan menceritakan betapa dia sangat diberkati oleh hamba Tuhan yang sering kami kritisi itu. Mendengar apa yang di ceritakan saya berkata dalam hati, “Kok berbeda dengan yang selama ini saya dengar?” Lalu saya di ajak untuk hadir dalam gereja hamba Tuhan itu bersama kak budi (waktu itu masih calon suami). Tiba-tiba hamba Tuhan itu berkata, “Saya sudah siapkan Firman, tapi jelas sekali Tuhan minta untuk saya ubah khotbah saya untuk seseorang yang sangat membutuhkannya.” Selama khotbah, dengan menggunakan ilmu S2 saya berusaha mencari titik ketidak benaran dari hamba Tuhan itu. Tapi saya tidak menemukannya. Semuanya sesuai dengan konteksnya! Bahkan Selesai kebaktian kak budi berkata, “Orang yang dimaksud sebagai alasan Hamba Tuhan itu ganti khotbahnya adalah: Saya! Karena saya minta itu!” Sejujurnya saya kaget luar biasa dan berkata, “Kok bisa ya?” Dan saya menjadi sangat yakin bahwa selama ini saya hanya menerima separoh kebenaran yang merupakan ‘sampah’ dan membuat hati tidak suka akan pekerjaan Tuhan yang luar biasa.
Pengalaman ke empat adalah masih dalam hal mengkritisi seorang Hamba Tuhan yang waktu itu terkenal hanya menyampaikan ‘kemakmuran’. Saya datang dalam ibadahnya dan kembali saya membuktikan bahwa hanya ‘sampah’ yang saya terima. Dengan jelas HambaNya menjelaskan bahwa Tuhan beri kekayaan dan kelimpahan bagi setiap orang yang mampu dipercaya untuk mengelola bagi kerajaanNya dan bukan bagi dirinya sendiri.
Pengalaman demi pengalaman telah kami (saya dan teman-teman) lewati. Dan sebenarnya gampang saja mendeteksi apakah perkataan yang kita dengar itu sampah atau tidak. Jika setelah kita mendengar muncul kemarahan, kepahitan, kesombongan (merasa lebih benar) dan dukacita yang tidak membawa ke pertobatan itulah Sampah! Ya,… Terlalu banyak ‘sampah’ yang tanpa kita sadari kita ijinkan masuk dalam kehidupan kita bahkan kita bawa kemana-mana dan mungkin kita hamburkan kemana-mana dan membuat bau busuk di mana-mana. Hanya 1 tempat yang layak bagi ‘sampah’ = tempat sampah.
Buang sampah dan tinggalkan! Jangan pernah diambil dan ditelan lagi! Apa yang masuk ke hati kita, pikiran kita itulah yang akan keluar melalui mulut kita. Oleh karena itu genapi Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Semoga artikel ini bisa memberkati dan membuat kita menjalani hidup dengan lebih enteng dan indah. Selamat membuang sampah. (Pol)
3 Mei 2010
15 Januari 2010
Disingkapkan
Ayat bacaan: Lukas 24: 13-35
Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. 2 Korintus 3:14
Kemampuan indra jasmani sangatlah terbatas. Padahal apa yang kita lihat, dengar dan rasakan melalui indra jasmani kita seringkali menentukan apa yang akan kita putuskan. Misalnya: kita merasa ada yang menjelek-jelekkan, lalu kita menjadi marah. Ya,.. kadangkala keterbatasan indra kita ini menghalangi kita melihat karya Allah yang tak terbatas.
Kedua murid Yesus yang berjalan menuju Emaus ini mengalami halyang sama. Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang segala sesuatu yang telah terjadi di Yerusalem. Di tengah-tengah perjalanan itu, datanglah Yesus dan berjalan bersama mereka. Sayangnya ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenali Yesus. Sampai ketika Yesus duduk bersama mereka, mengambil roti, mengucap berkat, memecahkan-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, baru terbukalah mata mereka.
Tanpa kita sadari, kita lebih sering cepat mencari teman untuk bercakap-cakap dan bertukar pikiran ketika menghadapi sebuah permasalahan ketimbang mencari Tuhan. Namun seperti yang dialami oleh kedua murid, keasyikan kita itu seringkali membuat kita tidak menyadari bahwa Tuhan sedang berjalan bersama kita. Itu membuat ada ‘sesuatu’ yang menghalangi mata kita. Mengapa demikian? Kadang kala ketika bercakap-cakap, kita tidak sadar bahwa kita menjadi mengasihi dirisendiri. Atau ketikakita bertukar pikiran kita menjadi mengandalkan pengalaman masa lalu.
Tuhan mau setiap kali menghadapi permasalahan, kita melihat Yesus yang duduk semeja dengan kita. Dengan duduk semeja denganNya, kita dapat melihat lagi setiap janji yang diberikanNya. Setiap kita special di mataNya sehingga untuk setiap permasalahan yang meskipun hampir sama dengan permasalahan orang lain, bisa jadi berbeda jalan keluar dan tujuan akhirnya. Oleh karena itu, Minta Roh Kudus untuk membukakan mata hati dan pikiran kita untuk kita dapat melihat karyaNya yang tak terbatas dalam kehidupan kita. (Pol) diterbitkan dalam Renungan Malam, Rabu 30 Desember 2009
Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. 2 Korintus 3:14
Kemampuan indra jasmani sangatlah terbatas. Padahal apa yang kita lihat, dengar dan rasakan melalui indra jasmani kita seringkali menentukan apa yang akan kita putuskan. Misalnya: kita merasa ada yang menjelek-jelekkan, lalu kita menjadi marah. Ya,.. kadangkala keterbatasan indra kita ini menghalangi kita melihat karya Allah yang tak terbatas.
Kedua murid Yesus yang berjalan menuju Emaus ini mengalami halyang sama. Dalam perjalanan mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran tentang segala sesuatu yang telah terjadi di Yerusalem. Di tengah-tengah perjalanan itu, datanglah Yesus dan berjalan bersama mereka. Sayangnya ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenali Yesus. Sampai ketika Yesus duduk bersama mereka, mengambil roti, mengucap berkat, memecahkan-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, baru terbukalah mata mereka.
Tanpa kita sadari, kita lebih sering cepat mencari teman untuk bercakap-cakap dan bertukar pikiran ketika menghadapi sebuah permasalahan ketimbang mencari Tuhan. Namun seperti yang dialami oleh kedua murid, keasyikan kita itu seringkali membuat kita tidak menyadari bahwa Tuhan sedang berjalan bersama kita. Itu membuat ada ‘sesuatu’ yang menghalangi mata kita. Mengapa demikian? Kadang kala ketika bercakap-cakap, kita tidak sadar bahwa kita menjadi mengasihi dirisendiri. Atau ketikakita bertukar pikiran kita menjadi mengandalkan pengalaman masa lalu.
Tuhan mau setiap kali menghadapi permasalahan, kita melihat Yesus yang duduk semeja dengan kita. Dengan duduk semeja denganNya, kita dapat melihat lagi setiap janji yang diberikanNya. Setiap kita special di mataNya sehingga untuk setiap permasalahan yang meskipun hampir sama dengan permasalahan orang lain, bisa jadi berbeda jalan keluar dan tujuan akhirnya. Oleh karena itu, Minta Roh Kudus untuk membukakan mata hati dan pikiran kita untuk kita dapat melihat karyaNya yang tak terbatas dalam kehidupan kita. (Pol) diterbitkan dalam Renungan Malam, Rabu 30 Desember 2009
Menjadi AnakNya
Ayat bacaan: Ibrani 12:1-17
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Ibrani 12:5-6
Suatu ketika sepulang kantor saya melihat anak saya yang dengan tersenyum menyambut saya. Sesaat sebelum dia tersenyum, saya melihatnya mematikan televisi. Saya tahu persis bahwa dia telah melanggar peraturan: “Tidak boleh menonton acara orang dewasa tanpa daddy atau mommy di sebelahmu!” Ya,… peraturan itu kami buat untuk menjaga supaya nilai-nilai kehidupannya baik. Namun kadangkala dia memprotes karena orang tua anak tetangga mengijinkan mereka menonton apapun yang mereka mau.
Saudara,…tanpa kita sadari meskipun secara usia kita telah disebut dewasa, ada bagian-bagian dalam hidup kita yang mencerminkan bahwa kita belum dewasa secara rohani. Seberapa seringkalikita bertanya, “Kenapa sepertinya Tuhan membiarkan orang yang tidak mengenalNya lebih sukses meskipun dengan cara yang tidak benar. Sementara kita hidup benar, hasilnya tidak sebaik mereka?” Atau miungkin kita sendiri mengalami masa ketika belum sungguh-sungguh melayani Tuhan,melakukan dosa besar rasanya ok-ok saja. Sedangkanketika sungguh-sungguhdalam Tuhan,dosa sedikit saja akibatnya fatal. Dankita bertanya, “Mengapa halini bias terjadi?”
Saudara,… Bersyukurlah kalau hal tersebut terjadi dalam hidup kita. Perlu kita sadari bahwa: Dia ingin menjadi yang terutama dalam hidup kita. Dia tidak mau kesuksesan membuat kita lupa pada si Pembuat Kesuksesan. Yang kedua, Dia mau mengingatkan bahwa standar kekudusanNya adalah mutlak! Tidak ada dosa besar atau dosa kecil, yang ada adalah: DOSA! Atau sedikit tidak taat dan kurang taat, yang ada adalah TIDAK TAAT! Dan kalau sepertinya kita di hajar sedemikian rupa, tujuannya adalah kita dilayakkan untuk menjadi anak-anak Allah. Matius 18:8 “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.” (Pol)
Diterbitkan oleh Renungan Pagi Minggu, 12 Desember 2009
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Ibrani 12:5-6
Suatu ketika sepulang kantor saya melihat anak saya yang dengan tersenyum menyambut saya. Sesaat sebelum dia tersenyum, saya melihatnya mematikan televisi. Saya tahu persis bahwa dia telah melanggar peraturan: “Tidak boleh menonton acara orang dewasa tanpa daddy atau mommy di sebelahmu!” Ya,… peraturan itu kami buat untuk menjaga supaya nilai-nilai kehidupannya baik. Namun kadangkala dia memprotes karena orang tua anak tetangga mengijinkan mereka menonton apapun yang mereka mau.
Saudara,…tanpa kita sadari meskipun secara usia kita telah disebut dewasa, ada bagian-bagian dalam hidup kita yang mencerminkan bahwa kita belum dewasa secara rohani. Seberapa seringkalikita bertanya, “Kenapa sepertinya Tuhan membiarkan orang yang tidak mengenalNya lebih sukses meskipun dengan cara yang tidak benar. Sementara kita hidup benar, hasilnya tidak sebaik mereka?” Atau miungkin kita sendiri mengalami masa ketika belum sungguh-sungguh melayani Tuhan,melakukan dosa besar rasanya ok-ok saja. Sedangkanketika sungguh-sungguhdalam Tuhan,dosa sedikit saja akibatnya fatal. Dankita bertanya, “Mengapa halini bias terjadi?”
Saudara,… Bersyukurlah kalau hal tersebut terjadi dalam hidup kita. Perlu kita sadari bahwa: Dia ingin menjadi yang terutama dalam hidup kita. Dia tidak mau kesuksesan membuat kita lupa pada si Pembuat Kesuksesan. Yang kedua, Dia mau mengingatkan bahwa standar kekudusanNya adalah mutlak! Tidak ada dosa besar atau dosa kecil, yang ada adalah: DOSA! Atau sedikit tidak taat dan kurang taat, yang ada adalah TIDAK TAAT! Dan kalau sepertinya kita di hajar sedemikian rupa, tujuannya adalah kita dilayakkan untuk menjadi anak-anak Allah. Matius 18:8 “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.” (Pol)
Diterbitkan oleh Renungan Pagi Minggu, 12 Desember 2009
20 November 2009
Kepahitan Menimbulkan Kerusuhan
Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Ibrani 12:15
Kepahitan menimbulkan kerusuhan. Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya sangat jelas dapat kita pelajari. Kepahitan, kebencian yang tidak diselesaikan mengakibatkan kerusuhan. Dan baiklah sambil membaca renungan ini kita minta Tuhan menunjukkan pada kita, “Masihkah ada akar pahit dalam hati kita?” Jika ada, baiklah kita mendekat pada kasih karunia Allah. Minta Dia menyembuhkan hati kita dan memampukan kita untuk mengampuni setiap orang yang bersalah.
Kejadian 37:4 “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” Berawal dari tidak mau menyapa dengan ramah. Bagaimana dengan kita? Adakah teman atau saudara yang membuat kita malas menyapa dengan ramah? Segera bereskan karena jika kita pelajari kisah selanjutnya kebencian yang ada di hati saudara-saudaranya mengakibatkan kejahatan-kejahatan yang lain.
Berbohong dan berusaha membunuh untuk menghancurkan mimpi orang lain. Kejadian 37: 20 “Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” Mimpi berbicara tujuan yang Tuhan beri. Betapa kita akan berurusan dengan Tuhan jika kita berusaha menggagalkan rencana Tuhan terhadap orang lain.
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini (KPR 8:22). “…dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." (Lukas 11:4)Telah diterbitkan sebagai materi renungan, penerbit Andi 2009
Ibrani 12:15
Kepahitan menimbulkan kerusuhan. Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya sangat jelas dapat kita pelajari. Kepahitan, kebencian yang tidak diselesaikan mengakibatkan kerusuhan. Dan baiklah sambil membaca renungan ini kita minta Tuhan menunjukkan pada kita, “Masihkah ada akar pahit dalam hati kita?” Jika ada, baiklah kita mendekat pada kasih karunia Allah. Minta Dia menyembuhkan hati kita dan memampukan kita untuk mengampuni setiap orang yang bersalah.
Kejadian 37:4 “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” Berawal dari tidak mau menyapa dengan ramah. Bagaimana dengan kita? Adakah teman atau saudara yang membuat kita malas menyapa dengan ramah? Segera bereskan karena jika kita pelajari kisah selanjutnya kebencian yang ada di hati saudara-saudaranya mengakibatkan kejahatan-kejahatan yang lain.
Berbohong dan berusaha membunuh untuk menghancurkan mimpi orang lain. Kejadian 37: 20 “Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” Mimpi berbicara tujuan yang Tuhan beri. Betapa kita akan berurusan dengan Tuhan jika kita berusaha menggagalkan rencana Tuhan terhadap orang lain.
Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini (KPR 8:22). “…dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." (Lukas 11:4)Telah diterbitkan sebagai materi renungan, penerbit Andi 2009
10 November 2009
Dikobarkan Kembali
Ayat bacaan: Lukas 4:13-35
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah
Roma 4:20
Dari ayat bacaan hari ini kita dapat melihat bahwa ada 2 orang muridNya yang telah sekian lama mengikut Yesus. Bahkan mereka pernah mendengar bahwa Yesus akan bangkit pada hari ketiga dan akan menunggu mereka di Galilea. Namun kenyataannya, tidak satupun dari muridNya yang percaya akan berita kebangkitanNya. Petruspun ketika ke Galilea bukannya menanti-nantikan kehadiranNya namun ia pergi menjala ikan. Hal yang sama dialami oleh kedua murid ini. Hati mereka telah beku dan mati. Mereka telah melihat betapa luar biasanya Yesus dengan segala kuasaNya dan mereka berharap bahwa dengan kuasa sehebat itu suatu saat Yesus akan menyelamatkan bangsa Israel atas penjajahan bangsa Romawi. Ya,.. Mereka menjadi kecewa karena Yesus tidak seperti yang dia harapkan. Yesus disiksa dan disalibkan.
Saudaara,.. Berapa banyak janji Tuhan yang pernah kita terima? Bagaimana respon hati kita ketika menantikan waktu penggenapan janjiNya? Apakah hati kita menjadi beku karena kecewa ketika janji itu sepertinya tidak akan menjadi Kenyataan. Saudara,.. Jangan pernah kita menjadi kecewa pada janji-janji Allah! Dia Allah yang tidak pernah lalai akan perjanjianNya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel (Mzm 105:8-10)
Dua orang murid ini baru bisa melihat Yesus yang telah bangkit ketika duduk dan makan bersamaNya. Inilah pula yang kita perlukan ketika hati menjadi beku dan kecewa dalam menanti-nantikan janjiNya. Duduk semeja dengannya artinya mengalami kembali persekutuan yang intim denganNya sehingga fokus hidup kita bukan pada masalah kita namun kepada pribadiNya. Perjumpaan denganNya membuat hati yang tadinya sudah beku dikobarkan lagi. Kita perlu memiliki hati yang berkobar-kobar untuk dapat menjadi saksiNya. Sama seperti Kedua murid ini yang dengan hati yang berkobar-kobar kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan berita kebangkitanNya. (Pol), diterbitkan oleh Renungan Spirit, Kamis 8 Oktober 2009
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah
Roma 4:20
Dari ayat bacaan hari ini kita dapat melihat bahwa ada 2 orang muridNya yang telah sekian lama mengikut Yesus. Bahkan mereka pernah mendengar bahwa Yesus akan bangkit pada hari ketiga dan akan menunggu mereka di Galilea. Namun kenyataannya, tidak satupun dari muridNya yang percaya akan berita kebangkitanNya. Petruspun ketika ke Galilea bukannya menanti-nantikan kehadiranNya namun ia pergi menjala ikan. Hal yang sama dialami oleh kedua murid ini. Hati mereka telah beku dan mati. Mereka telah melihat betapa luar biasanya Yesus dengan segala kuasaNya dan mereka berharap bahwa dengan kuasa sehebat itu suatu saat Yesus akan menyelamatkan bangsa Israel atas penjajahan bangsa Romawi. Ya,.. Mereka menjadi kecewa karena Yesus tidak seperti yang dia harapkan. Yesus disiksa dan disalibkan.
Saudaara,.. Berapa banyak janji Tuhan yang pernah kita terima? Bagaimana respon hati kita ketika menantikan waktu penggenapan janjiNya? Apakah hati kita menjadi beku karena kecewa ketika janji itu sepertinya tidak akan menjadi Kenyataan. Saudara,.. Jangan pernah kita menjadi kecewa pada janji-janji Allah! Dia Allah yang tidak pernah lalai akan perjanjianNya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel (Mzm 105:8-10)
Dua orang murid ini baru bisa melihat Yesus yang telah bangkit ketika duduk dan makan bersamaNya. Inilah pula yang kita perlukan ketika hati menjadi beku dan kecewa dalam menanti-nantikan janjiNya. Duduk semeja dengannya artinya mengalami kembali persekutuan yang intim denganNya sehingga fokus hidup kita bukan pada masalah kita namun kepada pribadiNya. Perjumpaan denganNya membuat hati yang tadinya sudah beku dikobarkan lagi. Kita perlu memiliki hati yang berkobar-kobar untuk dapat menjadi saksiNya. Sama seperti Kedua murid ini yang dengan hati yang berkobar-kobar kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan berita kebangkitanNya. (Pol), diterbitkan oleh Renungan Spirit, Kamis 8 Oktober 2009
14 Agustus 2009
Konseling dengan Tuhan
Firman Tuhan katakan dalam Yakobus 5:16:
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Memang idealnya setiap kali mengalami kelemahan dan kegagalan kita segera mencari pengayom rohani untuk mengaku dosa dan minta didoakan supaya sembuh. Namun tidak selalu kita memiliki waktu, kesempatan, kepercayaan diri dan keberanian untuk melakukannya. Sayapun mengalami hal yang sama.
Meskipun sudah mengenal Yesus sebagai Juru Selamat pribadi sejak kelas 5 SD, namun kehidupan saya masih kacau. Terutama secara emosi, bisa dikatakan tidak stabil. Dosa yang tidak dibereskan membuat dosa yang lebih besar muncul lagi dan lagi dan lagi. Kehidupan menjadi seperti benang kusut yang sulit ditemui ujung pangkalnya. Kagagalan demi kegagalan inilah yang akhirnya membuat saya lama-kelamaan malu untuk datang kepada pemimpin rohani, meskipun saya yakin pemimpin saya adalah orang yang sangat baik, tidak pernah menceritakan masalah saya ke orang lain dan tidak pernah menyalahkan saya.
Untungnya di saat seperti itu saya menemukan sebuah buku ‘Konseling denganTuhan’
Saya tertarik untuk membacanya dan kemudian mulai mempraktekkannya. Secara garis besar, konseling dengan Tuhan sama halnya konseling dengan orang lain. Saya memulainya dengan mengambil sebuah buku tulis atau kertas dan bolpen. Ajukan pertanyaan-pertanyaan:
1. Dosa / hal apa yang mengganjal dalam kehidupanmu.
2. Apa yang Tuhan katakan tentang permasalahanmu. (Bisa berupa nasehat, janji Tuhan, langkah-langkah iman yang harus diambil)
3. Selalu akhiri konseling dengan berdoa. Berdoalah meminta kesembuhan yang dari Tuhan.
Princess,… praktekkan konseling denganTuhan dan nikmati mujizat kesembuhan dengan Konseling denganTuhan.
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Memang idealnya setiap kali mengalami kelemahan dan kegagalan kita segera mencari pengayom rohani untuk mengaku dosa dan minta didoakan supaya sembuh. Namun tidak selalu kita memiliki waktu, kesempatan, kepercayaan diri dan keberanian untuk melakukannya. Sayapun mengalami hal yang sama.
Meskipun sudah mengenal Yesus sebagai Juru Selamat pribadi sejak kelas 5 SD, namun kehidupan saya masih kacau. Terutama secara emosi, bisa dikatakan tidak stabil. Dosa yang tidak dibereskan membuat dosa yang lebih besar muncul lagi dan lagi dan lagi. Kehidupan menjadi seperti benang kusut yang sulit ditemui ujung pangkalnya. Kagagalan demi kegagalan inilah yang akhirnya membuat saya lama-kelamaan malu untuk datang kepada pemimpin rohani, meskipun saya yakin pemimpin saya adalah orang yang sangat baik, tidak pernah menceritakan masalah saya ke orang lain dan tidak pernah menyalahkan saya.
Untungnya di saat seperti itu saya menemukan sebuah buku ‘Konseling denganTuhan’
Saya tertarik untuk membacanya dan kemudian mulai mempraktekkannya. Secara garis besar, konseling dengan Tuhan sama halnya konseling dengan orang lain. Saya memulainya dengan mengambil sebuah buku tulis atau kertas dan bolpen. Ajukan pertanyaan-pertanyaan:
1. Dosa / hal apa yang mengganjal dalam kehidupanmu.
2. Apa yang Tuhan katakan tentang permasalahanmu. (Bisa berupa nasehat, janji Tuhan, langkah-langkah iman yang harus diambil)
3. Selalu akhiri konseling dengan berdoa. Berdoalah meminta kesembuhan yang dari Tuhan.
Princess,… praktekkan konseling denganTuhan dan nikmati mujizat kesembuhan dengan Konseling denganTuhan.
28 Juli 2009
Ruth Bell Graham
• Bahana menyebutnya sebagai PILAR yang tersembunyi.
• Lahir di Quingjiang, Kiangsu, China pada 10 Juni 1920.
Orang tuanya misionaris di bidang kesehatan
• Bertemu dengan Billy Graham “Si Pengkhotbah” tahun 1937 di Wheaton College.
• Menikah pada 13 Agustus 1943 dan dikaruniai 5 orang anak.
Ruth berjuang mengurusi anak-anaknya sementara Billy melayani banyak tempat di dunia tanpa mengeluh. Ia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk akrab dengan Alkitab sejak kecil. Masa-masa ketika Billy tidak ada, Ruth mengambil tanggung jawab untuk membangun mezbah keluarga setiap hari. Tak heran kelima anaknya menjadi orang-orang besar.
Ia menginvestasikan waktu-waktu pribadinya dengan membaca Alkitab dan merenungkannya. Dengan 14 Alkitab dengan berbagai versi. Beberapa anaknya sering mendapati Ruth masih asyik membaca firman meski sudah subuh. Kalau tidak ia didapati belutut berdoa semalaman untuk mendoakan pelayanan suaminya.
Billy Graham menyebutnya sebagai, “Partner Kehidupan” Billy seringkali meminta tuntunan rohani ketika mengalami tekanan dalam pelayanan kepada Ruth, karena Ia adalah seorang pembelajar Alkitab seumur hidup. Hal itu diyakinkan oleh Franklin, putranya dalam sebuah wawancara mengenai ibunya.
Gigi Graham menceritakan tentang Ruth, ibunya:
Setelah memeluk kami satu per satu, Papa akan merangkul Mama, mengecup keningnya dan menghapus air matanya. Kami tahu bahwa kami akan bertemu Papa beberapa bulan kemudian. Setelah Papa tidak kelihatan, saya melihat wajah mama yang dipenuhi air mata. Saya tahu melepas Papa pergi pelayanan dalam waktu lama bukan hal mudah baginya, ia merasa kehilangan dan kesepian. Tapi kemudian, ia tersenyum kepada kami, dan membuat kami tidak tertekan dan kepahitan karena ketidak hadiran Papa. Ia selalu tahu cara menyenangkan kami sehingga kami tahu bahwa hidup di dalam Tuhan itu pasti Indah.
Ditengah kesibukannya mengurusi ke-5 anaknya sendiri, Ruth memaksimalkan talentanya dengan menerbitkan buku pertamanya sebagai awal dari 13 buku lainnya, di tahun 1959 berjudul our Christmas Story, sebuah buku ilustrasi anak-anak. Buku-buku ini dibuat semasa sering ditinggal suaminya untuk pelayanan. Ia juga menjadi kolumnis di beberapa surat kabar dan majalah rohani. Ruth juga menjadi tokoh penting program radio “Hour of Decision” salah satu acara media BGEA di tahun 1960.
Tidak hanya itu, sejak tahun 1966, Ruth mendirikan Pusat kesehatan Anak dan aktif melayani di sana sampai akhir hayatnya. Di tahun yang sama Ruth dianugrahi Medali Emas Kongres dalam sebuah upacara khusus di United States Capitol Rotunda, Washington DC.
Ruth telah menjadi inspirasi dalam melakukan Amsal 31:23 “Istri yang bijaksana membuat suaminya dikenal di pintu-pintu gerbang”
• Lahir di Quingjiang, Kiangsu, China pada 10 Juni 1920.
Orang tuanya misionaris di bidang kesehatan
• Bertemu dengan Billy Graham “Si Pengkhotbah” tahun 1937 di Wheaton College.
• Menikah pada 13 Agustus 1943 dan dikaruniai 5 orang anak.
Ruth berjuang mengurusi anak-anaknya sementara Billy melayani banyak tempat di dunia tanpa mengeluh. Ia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk akrab dengan Alkitab sejak kecil. Masa-masa ketika Billy tidak ada, Ruth mengambil tanggung jawab untuk membangun mezbah keluarga setiap hari. Tak heran kelima anaknya menjadi orang-orang besar.
Ia menginvestasikan waktu-waktu pribadinya dengan membaca Alkitab dan merenungkannya. Dengan 14 Alkitab dengan berbagai versi. Beberapa anaknya sering mendapati Ruth masih asyik membaca firman meski sudah subuh. Kalau tidak ia didapati belutut berdoa semalaman untuk mendoakan pelayanan suaminya.
Billy Graham menyebutnya sebagai, “Partner Kehidupan” Billy seringkali meminta tuntunan rohani ketika mengalami tekanan dalam pelayanan kepada Ruth, karena Ia adalah seorang pembelajar Alkitab seumur hidup. Hal itu diyakinkan oleh Franklin, putranya dalam sebuah wawancara mengenai ibunya.
Gigi Graham menceritakan tentang Ruth, ibunya:
Setelah memeluk kami satu per satu, Papa akan merangkul Mama, mengecup keningnya dan menghapus air matanya. Kami tahu bahwa kami akan bertemu Papa beberapa bulan kemudian. Setelah Papa tidak kelihatan, saya melihat wajah mama yang dipenuhi air mata. Saya tahu melepas Papa pergi pelayanan dalam waktu lama bukan hal mudah baginya, ia merasa kehilangan dan kesepian. Tapi kemudian, ia tersenyum kepada kami, dan membuat kami tidak tertekan dan kepahitan karena ketidak hadiran Papa. Ia selalu tahu cara menyenangkan kami sehingga kami tahu bahwa hidup di dalam Tuhan itu pasti Indah.
Ditengah kesibukannya mengurusi ke-5 anaknya sendiri, Ruth memaksimalkan talentanya dengan menerbitkan buku pertamanya sebagai awal dari 13 buku lainnya, di tahun 1959 berjudul our Christmas Story, sebuah buku ilustrasi anak-anak. Buku-buku ini dibuat semasa sering ditinggal suaminya untuk pelayanan. Ia juga menjadi kolumnis di beberapa surat kabar dan majalah rohani. Ruth juga menjadi tokoh penting program radio “Hour of Decision” salah satu acara media BGEA di tahun 1960.
Tidak hanya itu, sejak tahun 1966, Ruth mendirikan Pusat kesehatan Anak dan aktif melayani di sana sampai akhir hayatnya. Di tahun yang sama Ruth dianugrahi Medali Emas Kongres dalam sebuah upacara khusus di United States Capitol Rotunda, Washington DC.
Ruth telah menjadi inspirasi dalam melakukan Amsal 31:23 “Istri yang bijaksana membuat suaminya dikenal di pintu-pintu gerbang”
Langganan:
Postingan (Atom)