15 Januari 2010

Menjadi AnakNya

Ayat bacaan: Ibrani 12:1-17
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Ibrani 12:5-6


Suatu ketika sepulang kantor saya melihat anak saya yang dengan tersenyum menyambut saya. Sesaat sebelum dia tersenyum, saya melihatnya mematikan televisi. Saya tahu persis bahwa dia telah melanggar peraturan: “Tidak boleh menonton acara orang dewasa tanpa daddy atau mommy di sebelahmu!” Ya,… peraturan itu kami buat untuk menjaga supaya nilai-nilai kehidupannya baik. Namun kadangkala dia memprotes karena orang tua anak tetangga mengijinkan mereka menonton apapun yang mereka mau.
Saudara,…tanpa kita sadari meskipun secara usia kita telah disebut dewasa, ada bagian-bagian dalam hidup kita yang mencerminkan bahwa kita belum dewasa secara rohani. Seberapa seringkalikita bertanya, “Kenapa sepertinya Tuhan membiarkan orang yang tidak mengenalNya lebih sukses meskipun dengan cara yang tidak benar. Sementara kita hidup benar, hasilnya tidak sebaik mereka?” Atau miungkin kita sendiri mengalami masa ketika belum sungguh-sungguh melayani Tuhan,melakukan dosa besar rasanya ok-ok saja. Sedangkanketika sungguh-sungguhdalam Tuhan,dosa sedikit saja akibatnya fatal. Dankita bertanya, “Mengapa halini bias terjadi?”
Saudara,… Bersyukurlah kalau hal tersebut terjadi dalam hidup kita. Perlu kita sadari bahwa: Dia ingin menjadi yang terutama dalam hidup kita. Dia tidak mau kesuksesan membuat kita lupa pada si Pembuat Kesuksesan. Yang kedua, Dia mau mengingatkan bahwa standar kekudusanNya adalah mutlak! Tidak ada dosa besar atau dosa kecil, yang ada adalah: DOSA! Atau sedikit tidak taat dan kurang taat, yang ada adalah TIDAK TAAT! Dan kalau sepertinya kita di hajar sedemikian rupa, tujuannya adalah kita dilayakkan untuk menjadi anak-anak Allah. Matius 18:8 “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.” (Pol)
Diterbitkan oleh Renungan Pagi Minggu, 12 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar