Ayat Bacaan: Bilangan 13:1-33
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"
Bilangan 13:30
Sikap hati menentukan tindakan. Kumpulan dari tindakan membawa pencitraan diri. Jadi kalau kamu mau dikenal sebagai orang yang baik, mulailah dengan mengambil sikap hati yang baik. Suatu ketika saya menonton sebuah pertandingan futsal. Salah satu pemainnya berlaku kasar dengan menendang kaki pemain lain dari belakang. Tentu saja pemain yang ditendang merasa kesakitan dan marah kepada lawannya. Dia bangkit berdiri dan mendorong lawannya seperti hendak berkelahi. Untung saja wasit segera menuju ke tengah lapangan dan berusaha untuk menenangkan mereka. Perkelahianpun dapat dihindari. Siapa yang salah? Baik pemain yang kasar maupun pemain yang emosional keduanya salah. Dan keduanya memiliki sikap hati yang keliru ketika menghadapi sebuah permasalahan. Pemain yang kasar merasa perlu melakukan segala cara untuk menghancurkan pemain yang terbaik, sedangkan pemain yang emosional merasa marah dengan perlakuan yang menyakitkan.
Sobat,… mari kita belajar untuk bersikap dengan benar. Salah satu pepatah kepemimpinan mengatakan, “Kita tidak bisa memilih berapa tahun kita akan hidup, tetapi kita bisa memilih berapa banyak kehidupan yang akan dimiliki dalam tahun-tahun itu. Kita tidak bisa mengendalikan kecantikan pada wajah kita, tetapi kita bisa mengendalikan ekspresi wajah kita. Kita tidak bisa mengendalikan saat-saat sulit dalam kehidupan, tetapi kita bisa memilih untuk membuat kehidupan tidak begitu sulit. Kita tidak bisa mengendalikan suasana negatif di dunia, tetapi kita bisa mengendalikan suasana pikiran kita. Terlalu sering kita berusaha memilih dan mengendalikan hal-hal yang tidak bisa kita kuasai. Terlalu jarang kita memilih untuk mengendalikan apa yang bisa kita kuasai yaitu sikap kita. Bahkan Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kaleb bisa memasuki Tanah Perjanjian karena sikapnya yang benar. Dia terus menjaga sikap hatinya di saat bangsanya memberontak kepada Allahnya. Dia tidak mengijinkan sikap hatinya dikotori.
Bagaimana dengan sikap Saudara? Positifkah atau negatifkah? Belum terlambat untuk mengubahnya. Jadi ayo lakukan pembaharuan yang signifikan dalam sikap Saudara karena sikapmu akan membawamu ke Tanah Perjanjian atau berputar-putar di padang belantara. (Pol) ~ telah diterbitkan sebagai renungan Youth Senin, 2 Agustus 2010, Yayasan Andi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar